Pahae Julu

Pahae Julu

Breaking

Kamis, 08 Januari 2026

Majelis Hadramaut Perkuat Harmoni Sosial Paska Perubahan Politik Yaman

Kamis, Januari 08, 2026 0
Majelis Hadramaut Perkuat Harmoni Sosial Paska Perubahan Politik Yaman
Sekretaris Jenderal Dewan Hadramaut Nasional, Issam Al-Katsiri, menggelar pertemuan dengan pimpinan Kantor Urusan dan Rujukan Suku Kindah di Hadramaut, Selasa, 6 Januari 2026. Pertemuan berlangsung di kantor Dewan Hadramaut Nasional di Kota Seiyun sebagai bagian dari upaya memperkuat komunikasi dengan unsur-unsur sosial dan kesukuan.

Pertemuan tersebut dipandang sebagai langkah penting dalam membangun sinergi antara lembaga politik dan struktur sosial tradisional di Hadramaut. Dewan Hadramaut Nasional menilai peran suku-suku sebagai fondasi penting dalam menjaga stabilitas daerah.

Dalam sambutannya, Issam Al-Katsiri (Al Katiri) menyambut baik kunjungan pimpinan Suku Kindah dan menyampaikan apresiasi atas posisi sosial serta peran historis Kindah di tengah masyarakat Hadramaut. Ia menegaskan bahwa Dewan Hadramaut Nasional hadir sebagai payung bersama bagi seluruh masyarakat Hadramaut tanpa memandang latar belakang politik maupun sosial.

Menurut Al-Katsiri, Dewan Hadramaut Nasional mengusung proyek nasional yang inklusif dan merepresentasikan aspirasi masyarakat Hadramaut untuk masa depan yang aman, stabil, dan damai. Ia menekankan pentingnya persatuan dalam menghadapi tantangan politik dan keamanan yang terus berkembang.

Ia menjelaskan bahwa fase saat ini menuntut kolaborasi seluruh komponen masyarakat, khususnya elemen kesukuan dan sosial. Kerja bersama dinilai penting untuk mengikis dampak negatif dari konflik dan ketegangan yang terjadi pada fase-fase sebelumnya.

Al-Katsiri secara tegas mengingatkan bahaya dari narasi yang dapat memecah belah masyarakat Hadramaut. Ia menyerukan penolakan terhadap segala bentuk ajakan yang berpotensi membangkitkan fanatisme kesukuan dan sentimen kedaerahan.

Penjagaan terhadap jalinan sosial dan ikatan kekeluargaan disebut sebagai prioritas utama, terutama di tengah kondisi sensitif yang sedang dihadapi Hadramaut. Ia menilai stabilitas sosial sebagai benteng utama menghadapi berbagai upaya destabilisasi.

Selain itu, Al-Katsiri menyoroti peran penting tokoh adat dan sosial dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Edukasi publik dan penguatan keamanan berbasis komunitas dinilai krusial untuk menjaga ketertiban dan mencegah konflik horizontal.

Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga keamanan sosial bukan hanya berada di tangan aparat, tetapi menjadi kewajiban bersama seluruh elemen masyarakat Hadramaut.

Dalam kesempatan tersebut, Al-Katsiri menyampaikan terima kasih kepada Kerajaan Arab Saudi atas perannya dalam mendukung aspirasi politik masyarakat Hadramaut. Dukungan Riyadh dinilai berkontribusi besar terhadap upaya menjaga keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut.

Ia menilai keterlibatan Arab Saudi sebagai faktor penyeimbang yang membantu mencegah eskalasi konflik serta mendukung terciptanya lingkungan yang kondusif bagi dialog dan rekonsiliasi.

Sementara itu, Direktur Kantor Urusan dan Rujukan Suku Kindah Hadramaut Valley, Sheikh Omar bin Awadh bin Ubaid bin Senkar Al-Kindi, menyampaikan ucapan selamat atas peresmian kantor Dewan Hadramaut Nasional.

Sheikh Omar menilai Dewan Hadramaut Nasional sebagai wadah pemersatu yang mampu menampung seluruh spektrum sosial dan politik Hadramaut. Ia menyebut dewan tersebut sebagai suara kolektif yang mencerminkan harapan masyarakat.

Ia juga mengapresiasi seruan Dewan Hadramaut Nasional untuk memperkuat perdamaian dan keamanan sosial. Menurutnya, pendekatan dialog dan persatuan adalah kunci untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Sheikh Omar menegaskan kesiapan Kantor Urusan dan Rujukan Suku Kindah untuk bekerja sama secara aktif dengan Dewan Hadramaut Nasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat persatuan dan memulihkan kepercayaan antar unsur masyarakat.

Ia menekankan pentingnya menutup lembaran konflik masa lalu dan mengarahkan energi bersama untuk membangun masa depan Hadramaut yang lebih stabil dan sejahtera.

Dalam pernyataannya, Sheikh Omar juga menyampaikan penghargaan kepada Arab Saudi atas dukungan berkelanjutan terhadap Hadramaut. Ia menyebut dukungan tersebut sebagai faktor penting dalam menjaga ketenangan dan keberlanjutan pembangunan sosial.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh keakraban, mencerminkan kesamaan pandangan tentang pentingnya persatuan dan stabilitas.

Hadir dalam pertemuan itu Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Hadramaut Nasional, Jamaan bin Saad, Sekretaris Jenderal Kantor Urusan dan Rujukan Suku Kindah, Yaqoub Bamoumin Al-Kindi, serta sejumlah kepala bidang dan tokoh masyarakat.

Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan koordinasi antara Dewan Hadramaut Nasional dan struktur kesukuan, sebagai bagian dari upaya menjaga kohesi sosial dan stabilitas jangka panjang di Hadramaut.

Rabu, 07 Januari 2026

PLC Kuasai Basis Strategis Selatan Yaman

Rabu, Januari 07, 2026 0
PLC Kuasai Basis Strategis Selatan Yaman

Pasukan yang loyal kepada Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) Yaman mulai mengambil alih sejumlah pangkalan dan pusat militer strategis yang sebelumnya ditinggalkan Uni Emirat Arab di wilayah selatan. Pengambilalihan ini mencakup provinsi Shabwa, Abyan, hingga Aden, dan menandai perubahan besar dalam peta kendali keamanan.

Sumber-sumber lapangan menyebutkan bahwa proses alih kendali berlangsung cepat dan relatif tanpa perlawanan berarti. Basis-basis yang diambil alih meliputi bandara militer, pos keamanan di sekitar ladang minyak, pelabuhan, serta fasilitas pendukung logistik lainnya.

Langkah ini dipimpin oleh pasukan Dir’ al-Wathan yang dikenal dekat dengan dukungan Arab Saudi dan berada di bawah payung struktur resmi negara. Kehadiran mereka dinilai sebagai bagian dari upaya menertibkan ulang aset strategis agar kembali berada di bawah kendali pemerintah.

Di Shabwa, pasukan pro-PLC dilaporkan telah memasuki sejumlah pangkalan yang sebelumnya dikelola oleh faksi-faksi pro-Emirat. Fokus utama pengamanan diarahkan ke instalasi energi dan jalur suplai yang vital bagi perekonomian daerah.

Selain Shabwa, Abyan menjadi titik penting dalam gelombang penataan ini. Provinsi yang menjadi gerbang timur menuju Aden itu kini resmi diserahkan tanpa pertempuran setelah evakuasi pasukan Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA.

Sumber lokal menyebut, konvoi militer Dir’ al-Wathan telah tiba di Kota Zinjibar, ibu kota administratif Abyan. Pasukan tersebut langsung menyebar ke kamp-kamp militer serta kantor-kantor pemerintahan guna memastikan stabilitas.

Otoritas lokal Abyan secara terbuka menyambut langkah Saudi dan pasukan pro-PLC. Mereka menyatakan dukungan terhadap kebijakan yang dinilai mampu mengakhiri ketegangan dan mencegah konflik bersenjata di wilayah tersebut.

Di Aden, pergerakan pasukan juga terpantau di pintu gerbang timur kota. Konvoi militer dilaporkan mulai melakukan penyebaran bertahap untuk mengamankan fasilitas strategis dan jalur masuk utama ibu kota sementara Yaman itu.

Pengambilalihan di Aden disebut mencakup sejumlah pos militer dan fasilitas yang sebelumnya tidak lagi difungsikan optimal. Otoritas keamanan menekankan bahwa langkah ini bertujuan mencegah kekosongan keamanan.

Salah satu fokus utama pemerintah adalah mengaktifkan kembali bandara dan pelabuhan yang sempat terbengkalai. Seluruh fasilitas tersebut direncanakan beroperasi kembali setelah menjalani perbaikan teknis dan peningkatan keamanan.

Bandara-bandara udara yang diambil alih akan difungsikan baik untuk kepentingan sipil maupun logistik negara. Pemerintah menilai reaktivasi bandara penting untuk membuka jalur ekonomi dan kemanusiaan.

Pelabuhan-pelabuhan di selatan juga masuk dalam agenda pemulihan. Selain perbaikan infrastruktur, pengamanan ketat akan diterapkan guna mencegah penyelundupan dan aktivitas ilegal.

Pengamat menilai langkah ini sebagai sinyal kuat melemahnya pengaruh Emirat di sejumlah wilayah selatan. Pengambilalihan aset tanpa pertempuran menunjukkan adanya perubahan keseimbangan kekuatan di lapangan.

Bagi PLC, konsolidasi ini dipandang penting untuk memperkuat legitimasi sebagai otoritas nasional. Kontrol atas basis militer dan fasilitas strategis menjadi kunci dalam proses tersebut.

Sementara itu, kalangan masyarakat setempat berharap perubahan ini membawa stabilitas dan pemulihan layanan publik. Banyak wilayah terdampak konflik lama mengalami stagnasi ekonomi akibat fasilitas yang tidak berfungsi.

Pemerintah juga berjanji akan melibatkan otoritas lokal dalam pengelolaan kembali aset-aset tersebut. Pendekatan ini diklaim untuk memastikan manfaat langsung dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, proses transisi ini tetap diawasi ketat guna mencegah gesekan antar faksi. Aparat keamanan menyatakan kesiapan penuh untuk menangani potensi gangguan.

Konsolidasi pasukan Dir’ al-Wathan sebelumnya telah dilakukan di Hadramaut dan Al-Mahra. Keberhasilan di wilayah-wilayah tersebut menjadi dasar perluasan ke Shabwa dan Abyan.

Dengan penguasaan jalur darat, udara, dan laut, pemerintah berharap dapat menciptakan jaringan keamanan terpadu di selatan. Jaringan ini dinilai penting untuk menjaga keutuhan wilayah.

Meski situasi relatif kondusif, dinamika politik selatan Yaman masih dinilai rapuh. Keberlanjutan penataan sangat bergantung pada kesepakatan politik yang lebih luas.

Untuk saat ini, fokus utama pemerintah adalah memastikan seluruh fasilitas vital kembali berfungsi. Reaktivasi bandara dan pelabuhan diharapkan menjadi awal pemulihan stabilitas dan ekonomi di selatan Yaman.

Selasa, 30 September 2025

Prediksi Gaddafi Tentang Suriah dan Lebanon Kembali Dibahas

Selasa, September 30, 2025 0
Prediksi Gaddafi Tentang Suriah dan Lebanon Kembali Dibahas

Muammar Gaddafi, mantan pemimpin Libya, kembali menjadi sorotan setelah sebuah video pidatonya pada tahun 1992 beredar kembali di media sosial. Dalam rekaman itu, ia memperingatkan adanya rencana besar untuk mengobok-obok Suriah dan Lebanon dari peta politik, sehingga Israel dapat berbatasan langsung dengan Turkiye. Pidato tersebut kini menjadi bahan diskusi panas di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah.

Dalam video yang diposting akun @AdameMedia di platform X, Gaddafi menyebut bahwa rencana ini tidak hanya soal perebutan wilayah, tetapi strategi jangka panjang. Ia bahkan menekankan bahwa hasil dari rencana ini mungkin tidak akan terlihat di masanya, melainkan di masa anak cucu generasi berikutnya. Ucapan ini dianggap sebagian pihak sebagai ramalan yang kini mulai terlihat nyata.

Rencana yang disebut Gaddafi memiliki kemiripan dengan apa yang dikenal sebagai Oded Yinon Plan. Dokumen yang ditulis pada 1982 oleh Oded Yinon, seorang mantan pejabat Kementerian Luar Negeri Israel, menggambarkan strategi untuk melemahkan negara-negara Arab dengan cara memecahnya menjadi bagian-bagian kecil. Tujuannya agar Israel lebih mudah mengendalikan kawasan.

Sejak dokumen itu muncul, wacana mengenai "balkanisasi" Timur Tengah terus menjadi topik hangat. Para pengamat menilai bahwa pecah belah internal, konflik sektarian, dan perang saudara di negara-negara Arab, terutama Suriah dan Irak, menjadi bukti bahwa strategi tersebut berjalan dengan pola yang mirip. Hal inilah yang membuat pidato Gaddafi kembali relevan.

Perang sipil Suriah atau Musim Semi Arab yang pecah sejak 2011 menjadi contoh paling nyata dari fragmentasi negara. Berbagai wilayah kini dikuasai oleh faksi berbeda, mulai dari pemerintah Bashar al-Assad, kelompok oposisi, hingga milisi Kurdi dan oposisi yang pernah menguasai wilayah luas. Kondisi ini dianggap selaras dengan apa yang diperingatkan Gaddafi lebih dari tiga dekade lalu. Pasca Assad hengkang, kini terdapat kekuatan SDF Kurdi, separatis Druze milisi Al Hajri pro neokolonialisme Greater Israel selain Damaskus yang kini dengan pemerintahan baru Presiden Ahmed Al Sharaa.

Lebanon juga tidak lepas dari gejolak. Negara kecil itu terus terjebak dalam krisis politik, ekonomi, dan sektarian. Konflik di Suriah semakin memperkeruh situasi, membuat Lebanon menjadi arena pertarungan proxy antara kekuatan regional. Instabilitas inilah yang membuat sebagian orang kembali menyoroti kata-kata Gaddafi.

Konsep “balkanisasi” yang digunakan Gaddafi merujuk pada perpecahan negara besar menjadi entitas kecil yang saling bertentangan. Istilah ini berasal dari pengalaman sejarah Balkan pada awal abad ke-20. Menurut sejumlah pakar geopolitik, strategi serupa tampaknya memang sedang dimainkan di kawasan Levant.

Turkiye, yang disebut Gaddafi dalam pidatonya, tentu menolak ambisi Tel Aviv itu. Meski dulu hubungan Ankara dan Tel Aviv cukup dekat, kini dinamika regional membuat keduanya sering berada di pihak yang berbeda.

Pernyataan Gaddafi pada 1992 seakan memberi isyarat bahwa pergeseran geopolitik Timur Tengah adalah sesuatu yang sudah diprediksi sejak lama. Meski tidak semua analis percaya bahwa ada skenario tunggal yang dijalankan, kenyataannya perkembangan di lapangan membuat ucapan itu terasa lebih masuk akal dibanding sebelumnya.

Banyak pihak menilai bahwa konflik-konflik di Timur Tengah memang tidak bisa dilepaskan dari campur tangan kekuatan besar, baik regional maupun global. Mulai dari intervensi Amerika Serikat, peran Rusia, hingga strategi Israel, semuanya ikut membentuk arah perkembangan kawasan yang semakin tidak stabil.

Sejumlah akademisi berpendapat bahwa pidato Gaddafi merupakan bentuk peringatan tentang bahaya perpecahan dunia Arab. Ia, yang dikenal dengan retorika anti-kebijakan semena mena Barat dan Israel, mungkin menggunakan isu ini untuk memperingatkan potensi ancama bagi dunia Arab. Tak sedikit yang menganggap bahwa Gaddafi memang membaca peta geopolitik dengan cukup tajam.

Seiring berjalannya waktu, banyak pengamat yang membandingkan situasi Suriah dan Lebanon dengan prediksi Gaddafi. Meski Lebanon belum hilang dari peta, krisis politik dan ekonomi yang berkepanjangan membuat negara itu seolah berada di tepi kehancuran. Sementara Suriah sudah jelas terpecah ke dalam beberapa zona kekuasaan.

Keterlibatan aktor non-negara juga menjadi faktor penting. Kelompok seperti Hizbullah, Druze, hingga milisi Kurdi mempertegas realitas bahwa Suriah dan Lebanon bukan lagi entitas negara yang sepenuhnya utuh. Fragmentasi ini menambah bobot pada klaim Gaddafi bahwa kawasan itu akan dipecah menjadi unit-unit kecil.

Meski demikian, sebagian analis menilai pernyataan Gaddafi sebaiknya tidak diambil bulat-bulat. Menurut mereka, pidato itu lebih merupakan prediksi akan tingkah hegemon Israel dan Barat, ketimbang sebuah dokumen strategi. Namun, fakta di lapangan membuat garis antara retorika dan realita semakin kabur.

Isu ini juga kembali mengangkat perdebatan tentang doktrin keamanan Israel. Sejak lama, Israel dinilai berkepentingan agar negara-negara tetangganya tetap lemah, terpecah, atau sibuk dengan konflik internal. Dengan begitu, Israel aka lebih mudah mewujudkan agenda neo kolonialismenya.

Sementara itu, masyarakat Lebanon dan Suriah kini menghadapi kenyataan pahit. Kehancuran infrastruktur, krisis ekonomi, serta perpecahan sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Situasi inilah yang membuat prediksi tentang “hilangnya” kedua negara terasa semakin relevan.

Meski prediksi Gaddafi tidak bisa dianggap sebagai nubuatan yang pasti, pidatonya memberikan perspektif tentang bagaimana dinamika global bisa membentuk nasib negara. Hal ini juga menunjukkan bahwa isu geopolitik sering kali bukan semata hasil konflik internal, melainkan bagian dari agenda yang lebih besar.

Kini, di tengah meningkatnya kampanye genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza, pembahasan mengenai pidato Gaddafi tampaknya akan terus berlanjut. Banyak yang melihatnya sebagai peringatan dini tentang arah perkembangan kawasan, meski kebenaran pastinya masih sulit dipastikan.

Yang jelas, Timur Tengah tetap menjadi kawasan paling rawan di dunia, tempat di mana ramalan politik bisa sewaktu-waktu menjadi kenyataan. Gaddafi mungkin sudah tiada, namun kata-katanya masih bergema dan terus diperdebatkan hingga kini.

Apakah prediksi Gaddafi benar-benar akan terbukti? Jawabannya masih bergantung pada dinamika politik, konflik, dan aliansi baru yang terus terbentuk. Namun, satu hal pasti: Timur Tengah tetap berada di pusaran ketidakpastian yang sulit ditebak.

Sabtu, 05 Juli 2025

Mengenal Sistem Parlemen India

Sabtu, Juli 05, 2025 0
Mengenal Sistem Parlemen India

Di tengah hingar bingar pemilu India 2024 yang baru saja berlalu, salah satu isu yang kembali mencuat adalah soal keterwakilan komunitas Muslim di parlemen negara itu. Meski umat Islam merupakan minoritas terbesar di India dengan populasi sekitar 14 persen dari total penduduk, jumlah wakil mereka di Lok Sabha justru mengalami penurunan drastis. Pada periode kali ini, hanya 24 anggota parlemen beragama Islam yang berhasil duduk di kursi legislatif pusat, jumlah terendah dalam enam dekade terakhir.

Lok Sabha yang memiliki total 543 kursi kini hanya menyisakan sekitar 4,4 persen perwakilan Muslim. Padahal jika mengikuti proporsi demografis, seharusnya angka tersebut bisa mencapai sekitar 70 kursi. Namun realitas politik India hari ini memperlihatkan betapa sulitnya komunitas Muslim untuk mendapat ruang di panggung kekuasaan nasional. Kondisi ini memunculkan banyak pertanyaan dari pengamat politik dan komunitas minoritas di India.

Salah satu faktor utama rendahnya jumlah wakil Muslim di parlemen India adalah sistem pemilu yang diterapkan. India menganut sistem first-past-the-post, di mana calon yang mendapat suara terbanyak di satu daerah pemilihan otomatis menjadi pemenang. Sistem ini membuat calon dari komunitas minoritas sulit unggul jika tidak memiliki dukungan lintas agama di daerah pemilihan yang mayoritas bukan Muslim.

Selain soal sistem, konsentrasi populasi Muslim yang tersebar di berbagai wilayah India juga turut menyulitkan. Kecuali di beberapa negara bagian seperti Uttar Pradesh, Bihar, Assam, Kerala, dan Jammu & Kashmir, jumlah pemilih Muslim di tiap daerah pemilihan umumnya minoritas. Kondisi ini membuat sulit bagi kandidat Muslim untuk menang jika tidak didukung partai-partai besar atau koalisi yang kuat.

Sayangnya, partai penguasa Bharatiya Janata Party (BJP) sama sekali tidak mencalonkan kandidat Muslim dalam pemilu 2024. Padahal BJP merupakan partai dengan kekuatan politik terbesar di India saat ini. Keputusan BJP ini bukan hal baru, sebab sejak beberapa pemilu terakhir partai nasionalis Hindu tersebut memang jarang memberi ruang bagi kader Muslim untuk maju sebagai calon legislatif.

Sementara partai-partai oposisi seperti Congress, Trinamool Congress (TMC), dan Samajwadi Party (SP) masih mengusung kandidat Muslim, namun jumlahnya tetap terbatas. Congress yang merupakan partai nasional utama hanya mengusung tujuh kandidat Muslim, sementara TMC yang berbasis di Benggala Barat mencalonkan lima orang. Sisanya berasal dari partai-partai regional di Kerala, Tamil Nadu, dan Jammu & Kashmir.

Meski demikian, beberapa tokoh Muslim berhasil mempertahankan kursi mereka, seperti Asaduddin Owaisi dari Hyderabad, satu-satunya wakil dari partai All India Majlis-e-Ittehad-ul Muslimeen (AIMIM). Owaisi dikenal vokal membela hak-hak minoritas Muslim di India. Ia menjadi salah satu suara penting di parlemen yang menyoroti berbagai kebijakan pemerintah pusat yang dinilai diskriminatif terhadap komunitas Muslim.

Di Jammu & Kashmir, wilayah mayoritas Muslim yang telah dicabut status otonominya sejak 2019, hanya tiga kandidat Muslim yang berhasil melaju ke parlemen. Mereka berasal dari partai National Conference dan satu dari jalur independen. Sementara di Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India, empat politisi Muslim berhasil duduk di parlemen berkat dukungan Samajwadi Party.

Tren menurunnya jumlah legislator Muslim ini disayangkan banyak pihak, mengingat umat Islam India memiliki kontribusi besar dalam sejarah kemerdekaan dan pembangunan negara itu. Dalam beberapa dekade pascakemerdekaan, perwakilan Muslim di parlemen sempat mencapai 9 hingga 10 persen, meski masih di bawah proporsi jumlah penduduknya. Namun sejak 1990-an, angka itu terus menurun seiring menguatnya politik identitas berbasis agama.

Selain itu, situasi polarisasi agama yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir turut memengaruhi pilihan politik masyarakat India. Banyak pemilih non-Muslim yang enggan mendukung kandidat Muslim, bahkan meskipun kandidat tersebut berasal dari partai sekuler. Akibatnya, banyak calon Muslim yang kalah tipis di daerah pemilihan campuran.

Yang menarik, pemilih Muslim India sendiri di beberapa daerah lebih memilih memberikan suara kepada kandidat non-Muslim yang dianggap mampu mengalahkan calon dari partai nasionalis Hindu. Langkah pragmatis ini diambil demi mencegah dominasi partai penguasa di daerah tersebut, meski harus mengorbankan keterwakilan dari komunitasnya sendiri.

Di tengah situasi ini, para politisi Muslim yang terpilih di parlemen menghadapi tantangan besar. Mereka harus memperjuangkan aspirasi komunitasnya di tengah parlemen yang didominasi partai-partai nasionalis Hindu. Apalagi, berbagai isu sensitif seperti kebijakan kewarganegaraan, pengaturan pernikahan antar agama, dan status Kashmir masih terus menjadi polemik nasional.

Sementara itu, beberapa lembaga survei dan organisasi hak asasi manusia telah menyuarakan kekhawatiran atas semakin menipisnya keterwakilan Muslim di parlemen India. Mereka menilai hal ini berpotensi memperburuk situasi politik minoritas di India, yang belakangan kerap mengalami diskriminasi sosial dan kekerasan sektarian.

Sejumlah analis politik menilai, situasi ini bisa berdampak jangka panjang terhadap hubungan sosial antaragama di India. Keterwakilan politik yang rendah dapat membuat komunitas Muslim merasa terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat nasional. Kondisi ini dikhawatirkan akan memperdalam jurang perpecahan dan ketidakpercayaan antar kelompok di masyarakat.

Namun di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa keterwakilan Muslim di parlemen bukan hanya soal jumlah, melainkan juga soal kualitas perjuangan dan keberanian menyuarakan aspirasi minoritas. Mereka menilai figur seperti Asaduddin Owaisi dan beberapa politisi muda Muslim lainnya bisa menjadi kekuatan moral baru di tengah parlemen yang semakin homogen.

Kondisi parlemen India saat ini seolah menjadi cerminan situasi politik identitas yang tengah menguat di berbagai belahan dunia. Keterwakilan minoritas, baik agama maupun etnis, menjadi isu yang kian penting di era demokrasi modern. Dan India, sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, kini menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan representasi politik seluruh warganya.


Rabu, 25 Juni 2025

Oussama Khatib dari Suriah Inspirasi Industri Robotika di Timur Tengah

Rabu, Juni 25, 2025 0
Oussama Khatib dari Suriah Inspirasi Industri Robotika di Timur Tengah

Dunia sains dan teknologi Timur Tengah kembali mendapat sorotan positif berkat kontribusi besar seorang tokoh asal Suriah, Profesor Oussama Khatib. Namanya tak asing di dunia robotika internasional, berkat karya-karya revolusionernya yang telah menginspirasi generasi baru ilmuwan Arab. Khatib menjadi salah satu figur penting yang membuktikan bahwa Suriah masih mampu melahirkan ilmuwan kelas dunia di tengah segala keterbatasan.

Profesor Khatib saat ini menjabat sebagai Direktur Laboratorium Robotika di Universitas Stanford, Amerika Serikat. Salah satu karyanya yang paling fenomenal adalah OceanOne, robot humanoid canggih yang didesain khusus untuk menjelajah dasar laut. Teknologi ini tak hanya menjadi kebanggaan dunia Arab, tapi juga membawa terobosan penting dalam eksplorasi kelautan global.

Baru-baru ini, dalam ajang Great Arab Minds Award di Dubai, Profesor Khatib dianugerahi penghargaan sebesar 1 juta dirham. Namun, tanpa ragu ia menyatakan akan menyumbangkan seluruh hadiah itu untuk program konservasi laut. Baginya, pelestarian lingkungan samudra sama pentingnya dengan kemajuan teknologi, sebab keduanya saling menopang kelangsungan hidup manusia.

Langkah mulia ini sekaligus menjadi pesan moral dari seorang ilmuwan Suriah kepada dunia, bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial. Ia menekankan pentingnya menjaga ekosistem laut sebagai bagian vital dari keseimbangan planet ini, seraya tetap mendorong perkembangan teknologi ramah lingkungan.

Tak berhenti di situ, Profesor Khatib juga berencana membangun sebuah robotarium di Museum of the Future Dubai. Tempat ini diharapkan menjadi ruang interaksi bagi anak-anak dan generasi muda Arab untuk mengenal dan mengembangkan teknologi robotika sejak dini. Sebuah visi besar yang lahir dari keyakinan bahwa masa depan Timur Tengah bisa lebih cerah lewat penguasaan teknologi.

Dalam sambutannya di hadapan Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Khatib menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan tersebut. Ia mengaku, selama berkarier di luar negeri, baru kali ini mendapat pengakuan sebesar itu dari dunia Arab. Momen ini baginya menjadi dorongan moral agar terus berkontribusi bagi komunitas akademik dan ilmiah di tanah kelahirannya.

Dengan lebih dari 327 karya riset internasional, Khatib menjadi pionir di bidang robotika modern yang konsisten mempromosikan potensi pelajar Arab di kancah global. Ia percaya, bakat-bakat muda Timur Tengah sebenarnya memiliki kemampuan yang tak kalah dengan negara-negara maju, hanya saja minim akses dan kesempatan.

Khatib tak pernah melupakan Suriah meski telah menetap puluhan tahun di Amerika. Dalam setiap kesempatan, ia menyebutkan keinginannya untuk suatu saat bisa berperan langsung membangun pusat riset robotika di kawasan Arab, termasuk di tanah kelahirannya. Ia ingin sejarah keemasan ilmuwan Arab di masa lalu bisa terulang di era modern.

Tokoh seperti Oussama Khatib menjadi contoh nyata bagaimana seorang ilmuwan dari kawasan konflik mampu bangkit dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia. Tak hanya lewat teknologi, tetapi juga lewat kepedulian terhadap lingkungan dan pendidikan generasi muda.

Keberhasilan Khatib juga menjadi motivasi bagi mahasiswa Suriah dan Timur Tengah yang kini mulai banyak menaruh minat di bidang robotika dan kecerdasan buatan. Kampus-kampus di Beirut, Kairo, Amman, hingga Riyadh perlahan membuka program-program studi berbasis teknologi canggih, terinspirasi kiprahnya.

Khatib mengingatkan pentingnya dunia Arab memperkuat infrastruktur riset dan menyediakan ekosistem akademik yang kondusif. Ia meyakini, banyak anak muda Arab yang sebenarnya mampu menciptakan teknologi mutakhir, asal diberi ruang berekspresi dan fasilitas yang memadai.

Dukungan dari negara-negara Teluk seperti UEA, Qatar, dan Arab Saudi terhadap proyek teknologi belakangan ini menjadi sinyal positif bahwa kawasan ini siap bertransformasi menjadi pusat inovasi baru. Proyek robotarium di Dubai menjadi salah satu langkah awal yang akan membuka jalan bagi lahirnya lebih banyak ilmuwan robotika Arab.

Dalam wawancara bersama Gulf News, Khatib berharap penghargaan yang diterimanya bisa menginspirasi anak-anak muda Suriah untuk terus bermimpi dan berusaha. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, dan bahwa dari kawasan yang pernah hancur pun bisa lahir gagasan-gagasan besar untuk umat manusia.

Perjalanan panjang Khatib di dunia akademik dan riset teknologi menjadi catatan penting dalam sejarah kontribusi ilmuwan Arab modern. Ia tak hanya berbicara soal robot dan kecerdasan buatan, tetapi juga soal nilai kemanusiaan dan tanggung jawab terhadap bumi.

Dengan tokoh seperti Khatib, masa depan robotika di kawasan Timur Tengah diyakini akan lebih maju. Visi, kepedulian, dan pengaruhnya akan mendorong munculnya pusat-pusat riset robotika baru di dunia Arab, yang kelak bisa bersaing dengan Silicon Valley atau Tokyo.

Kisah Khatib pun menjadi simbol kebangkitan kembali sains di Timur Tengah setelah sekian lama tertinggal akibat konflik politik. Semangatnya kini mulai menular ke kampus-kampus dan laboratorium di berbagai negara Arab.

Ke depan, dunia Arab diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pencipta solusi robotik untuk berbagai kebutuhan di bidang kesehatan, keamanan, hingga lingkungan. Semua itu bisa tercapai bila inspirasi dari tokoh-tokoh seperti Oussama Khatib terus ditanamkan ke generasi baru.

Jumat, 28 Maret 2025

Mudik ke Tanah Batak: Jejak Sejarah Keluarga dan Islam yang Tersembunyi

Jumat, Maret 28, 2025 0
Mudik ke Tanah Batak: Jejak Sejarah Keluarga dan Islam yang Tersembunyi
Jakarta, Indonesia - Tradisi mudik, sebuah ritual tahunan yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia, menjadi momen yang sangat dinantikan oleh jutaan perantau. Bagi mereka yang merantau dari Jakarta dan memiliki kampung halaman di Tanah Batak, Sumatera Utara, mudik bukan hanya sekadar pulang kampung, tetapi juga kesempatan emas untuk menggali lebih dalam akar keluarga dan menelusuri jejak sejarah Islam yang mungkin tersembunyi di sana.

Tanah Batak, yang dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau dan kekayaan budayanya yang unik, menyimpan sejarah panjang yang menarik untuk diungkap. Selain warisan budaya Batak yang kental, jejak-jejak Islam juga dapat ditemukan di berbagai sudut wilayah ini, meskipun mayoritas penduduknya beragama Kristen. Mudik menjadi waktu yang tepat untuk memanfaatkan kesempatan ini, mengunjungi sanak saudara, dan menjelajahi peninggalan-peninggalan sejarah yang mungkin selama ini belum terjamah.

Salah satu cara paling efektif untuk memulai penelusuran sejarah keluarga adalah melalui tarombo, atau silsilah keluarga Batak. Tarombo bukan hanya sekadar catatan nama-nama leluhur, tetapi juga mengandung informasi penting mengenai asal-usul marga, hubungan kekerabatan, dan bahkan kisah-kisah perjalanan hidup para pendahulu. Saat berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman, luangkan waktu untuk berdiskusi dan mencatat informasi dari para tetua adat atau anggota keluarga yang memiliki pengetahuan mendalam tentang tarombo.

Selain tarombo, peninggalan keluarga juga dapat menjadi jendela menuju masa lalu. Foto-foto lama, surat-surat kuno, dokumen-dokumen penting, atau bahkan benda-benda pusaka keluarga dapat menyimpan cerita-cerita menarik tentang kehidupan generasi sebelumnya. Ajaklah anggota keluarga untuk berbagi cerita di balik setiap peninggalan tersebut. Siapa tahu, Anda akan menemukan fakta-fakta mengejutkan atau kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan dan perjalanan hidup keluarga Anda.

Jangan lupakan juga bukti-bukti makam leluhur. Makam bukan hanya sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga saksi bisu perjalanan hidup seseorang. Perhatikan inskripsi pada nisan, tanggal lahir dan wafat, serta informasi lain yang mungkin terukir di sana. Informasi ini dapat membantu Anda melengkapi silsilah keluarga dan mendapatkan gambaran tentang rentang waktu kehidupan leluhur Anda.

Selain sejarah keluarga, mudik ke Tanah Batak juga dapat menjadi kesempatan untuk menelusuri jejak sejarah Islam di wilayah ini. Meskipun bukan agama mayoritas, Islam memiliki akar sejarah yang cukup dalam di beberapa bagian Tanah Batak. Carilah informasi mengenai masjid-masjid tua atau makam-makam tokoh Muslim yang mungkin ada di sekitar kampung halaman Anda. Kunjungi tempat-tempat tersebut dan cobalah menggali cerita tentang bagaimana Islam pertama kali masuk dan berkembang di wilayah tersebut.

Berinteraksi dengan tokoh-tokoh masyarakat atau pemuka agama setempat juga dapat memberikan wawasan berharga. Mereka mungkin memiliki pengetahuan tentang sejarah lokal, termasuk sejarah Islam, yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah. Jangan ragu untuk bertanya dan berbagi cerita dengan mereka.

Manfaatkan juga perpustakaan daerah atau museum yang ada di sekitar kampung halaman Anda. Sumber-sumber tertulis seperti buku, jurnal, atau arsip daerah dapat memberikan informasi tambahan mengenai sejarah keluarga dan sejarah Islam di Tanah Batak.

Perjalanan mudik ini bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman, tetapi juga tentang perjalanan kembali ke akar sejarah dan identitas diri. Dengan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada, Anda dapat mengungkap kekayaan sejarah keluarga dan jejak-jejak Islam yang mungkin selama ini tersembunyi di Tanah Batak.

Setiap cerita yang ditemukan, setiap informasi yang dikumpulkan, akan menjadi bagian berharga dari warisan keluarga yang dapat diceritakan kepada generasi mendatang. Mudik bukan lagi sekadar tradisi rutin, tetapi juga sebuah petualangan sejarah yang memperkaya pemahaman tentang diri sendiri dan tanah kelahiran.

Oleh karena itu, bagi Anda yang memiliki kampung halaman di Tanah Batak dan berencana untuk mudik dari Jakarta, persiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang lebih bermakna. Jadikan momen mudik ini sebagai kesempatan untuk menggali sejarah keluarga dan menelusuri jejak-jejak Islam yang mungkin tersembunyi di sana. Anda akan terkejut dengan betapa kayanya sejarah yang tersimpan di tanah leluhur Anda.

Mulailah dengan mencari informasi dari keluarga terdekat, kemudian perluas pencarian ke anggota keluarga yang lebih jauh. Jangan takut untuk bertanya dan mendengarkan cerita-cerita dari para tetua. Setiap informasi, sekecil apapun, dapat menjadi potongan penting dalam menyusun mozaik sejarah keluarga Anda.
Selain itu, jangan ragu untuk menjelajahi lingkungan sekitar kampung halaman.

Kunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah, seperti rumah adat tua, situs-situs peninggalan, atau tempat-tempat yang memiliki cerita turun-temurun. Siapa tahu, Anda akan menemukan jejak-jejak Islam yang menarik di tempat-tempat yang tidak terduga.

Dokumentasikan setiap temuan Anda. Catat informasi penting, ambil foto atau video peninggalan-peninggalan sejarah, dan kumpulkan cerita-cerita yang Anda dengar. Dokumentasi ini akan menjadi arsip berharga bagi keluarga Anda di masa depan.

Bagikan juga hasil penelusuran Anda dengan anggota keluarga lainnya. Diskusikan temuan-temuan Anda dan ajak mereka untuk terlibat dalam proses penggalian sejarah ini. Bersama-sama, Anda dapat mengungkap lebih banyak lagi tentang masa lalu keluarga dan tanah kelahiran Anda.

Mudik ke Tanah Batak bukan hanya tentang merayakan hari raya, tetapi juga tentang merayakan warisan sejarah dan budaya yang kaya. Manfaatkan momen ini untuk mempererat tali silaturahmi dengan keluarga dan sekaligus memperdalam pemahaman tentang akar jati diri Anda.

Dengan semangat ingin tahu dan ketekunan, perjalanan mudik Anda akan menjadi sebuah petualangan yang tak terlupakan, membawa Anda lebih dekat dengan sejarah keluarga dan jejak-jejak Islam di Tanah Batak. Selamat mudik dan selamat menjelajahi sejarah!

Dibuat oleh AI

Selasa, 08 November 2022

Menteri Yaman Tuduh Houthi Jadikan PNS Jadi Komponen Cadangan Militer Mirip Basij Iran

Selasa, November 08, 2022 0
Menteri Yaman Tuduh Houthi Jadikan PNS Jadi Komponen Cadangan Militer Mirip Basij Iran
Menteri Penerangan Yaman dari pemerintahan yang sah, Muammar bin Mutaher Al-Eryani, menuduh bahwa Al-Houthi mewajibkan pegawai negeri untuk menjadi komponen cadangan militer mirip Basij di Iran kalau tidak akan dipecat.

Keterangan Menteri ini memperkuat dugaan kelompok Houthi dengan memperkuat dirinya dengan kekuatan militer secara kuantitatif.


Menteri Penerangan Yaman mengkonfirmasi bahwa milisi Houthi mengeluarkan kode etik profesional, yang merupakan peraturan kolektif bagi pegawai negara.

Iran memiliki komponen militer bernama Basij yang terdiri dari relawan umum, pegawai negeri dan swasta.

Karena jumlahnya yang masif, Iran diperkirakan pernah memiliki militer sebanyak 10 juta pasukan.

Namun Basij hanya sebuah komponen cadangan dan hanya dipanggil ketika terjadi darurat negara.

Di banyak negara, komponen ini disebut juga sebagai wajib militer.