Pasukan yang loyal kepada Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) Yaman mulai mengambil alih sejumlah pangkalan dan pusat militer strategis yang sebelumnya ditinggalkan Uni Emirat Arab di wilayah selatan. Pengambilalihan ini mencakup provinsi Shabwa, Abyan, hingga Aden, dan menandai perubahan besar dalam peta kendali keamanan.
Sumber-sumber lapangan menyebutkan bahwa proses alih kendali berlangsung cepat dan relatif tanpa perlawanan berarti. Basis-basis yang diambil alih meliputi bandara militer, pos keamanan di sekitar ladang minyak, pelabuhan, serta fasilitas pendukung logistik lainnya.
Langkah ini dipimpin oleh pasukan Dir’ al-Wathan yang dikenal dekat dengan dukungan Arab Saudi dan berada di bawah payung struktur resmi negara. Kehadiran mereka dinilai sebagai bagian dari upaya menertibkan ulang aset strategis agar kembali berada di bawah kendali pemerintah.
Di Shabwa, pasukan pro-PLC dilaporkan telah memasuki sejumlah pangkalan yang sebelumnya dikelola oleh faksi-faksi pro-Emirat. Fokus utama pengamanan diarahkan ke instalasi energi dan jalur suplai yang vital bagi perekonomian daerah.
Selain Shabwa, Abyan menjadi titik penting dalam gelombang penataan ini. Provinsi yang menjadi gerbang timur menuju Aden itu kini resmi diserahkan tanpa pertempuran setelah evakuasi pasukan Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA.
Sumber lokal menyebut, konvoi militer Dir’ al-Wathan telah tiba di Kota Zinjibar, ibu kota administratif Abyan. Pasukan tersebut langsung menyebar ke kamp-kamp militer serta kantor-kantor pemerintahan guna memastikan stabilitas.
Otoritas lokal Abyan secara terbuka menyambut langkah Saudi dan pasukan pro-PLC. Mereka menyatakan dukungan terhadap kebijakan yang dinilai mampu mengakhiri ketegangan dan mencegah konflik bersenjata di wilayah tersebut.
Di Aden, pergerakan pasukan juga terpantau di pintu gerbang timur kota. Konvoi militer dilaporkan mulai melakukan penyebaran bertahap untuk mengamankan fasilitas strategis dan jalur masuk utama ibu kota sementara Yaman itu.
Pengambilalihan di Aden disebut mencakup sejumlah pos militer dan fasilitas yang sebelumnya tidak lagi difungsikan optimal. Otoritas keamanan menekankan bahwa langkah ini bertujuan mencegah kekosongan keamanan.
Salah satu fokus utama pemerintah adalah mengaktifkan kembali bandara dan pelabuhan yang sempat terbengkalai. Seluruh fasilitas tersebut direncanakan beroperasi kembali setelah menjalani perbaikan teknis dan peningkatan keamanan.
Bandara-bandara udara yang diambil alih akan difungsikan baik untuk kepentingan sipil maupun logistik negara. Pemerintah menilai reaktivasi bandara penting untuk membuka jalur ekonomi dan kemanusiaan.
Pelabuhan-pelabuhan di selatan juga masuk dalam agenda pemulihan. Selain perbaikan infrastruktur, pengamanan ketat akan diterapkan guna mencegah penyelundupan dan aktivitas ilegal.
Pengamat menilai langkah ini sebagai sinyal kuat melemahnya pengaruh Emirat di sejumlah wilayah selatan. Pengambilalihan aset tanpa pertempuran menunjukkan adanya perubahan keseimbangan kekuatan di lapangan.
Bagi PLC, konsolidasi ini dipandang penting untuk memperkuat legitimasi sebagai otoritas nasional. Kontrol atas basis militer dan fasilitas strategis menjadi kunci dalam proses tersebut.
Sementara itu, kalangan masyarakat setempat berharap perubahan ini membawa stabilitas dan pemulihan layanan publik. Banyak wilayah terdampak konflik lama mengalami stagnasi ekonomi akibat fasilitas yang tidak berfungsi.
Pemerintah juga berjanji akan melibatkan otoritas lokal dalam pengelolaan kembali aset-aset tersebut. Pendekatan ini diklaim untuk memastikan manfaat langsung dirasakan masyarakat.
Di sisi lain, proses transisi ini tetap diawasi ketat guna mencegah gesekan antar faksi. Aparat keamanan menyatakan kesiapan penuh untuk menangani potensi gangguan.
Konsolidasi pasukan Dir’ al-Wathan sebelumnya telah dilakukan di Hadramaut dan Al-Mahra. Keberhasilan di wilayah-wilayah tersebut menjadi dasar perluasan ke Shabwa dan Abyan.
Dengan penguasaan jalur darat, udara, dan laut, pemerintah berharap dapat menciptakan jaringan keamanan terpadu di selatan. Jaringan ini dinilai penting untuk menjaga keutuhan wilayah.
Meski situasi relatif kondusif, dinamika politik selatan Yaman masih dinilai rapuh. Keberlanjutan penataan sangat bergantung pada kesepakatan politik yang lebih luas.
Untuk saat ini, fokus utama pemerintah adalah memastikan seluruh fasilitas vital kembali berfungsi. Reaktivasi bandara dan pelabuhan diharapkan menjadi awal pemulihan stabilitas dan ekonomi di selatan Yaman.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar